Skip to main content

Service Excellence

Hal-hal Kecil Itu Penting Kok

Small Things Matter
Tepat 1 (satu) hari sebelum saya sakit DBD, saya duduk di sebuah cafe dengan teman saya. Beliau mengatakan bahwa sekarang menu utama cafe adalah “stop kontak” dan “Wi-Fi”. Kami yang mendengarnya tertawa dan setuju.
Sekarang banyak sekali orang yang ke cafe membawa laptop atau charger handphone-nya. Namun tidak banyak cafe yang menyediakan stop kontak. Ini sebenarnya hal kecil, namun cukup untuk “mengusir” tamu-tamunya.
Malam ini saya menginap di Hotel Narita – Tangerang. Saya menemukan bahwa mereka meletakkan 1 buah mangkok bening cantik di ujung bath tub. Isinya adalah sabun! Ketika saya melihat sabun ini, saya tersenyum. Biasanya saat mandi di hotel, kita lupa ambil sabun. Hasilnya setelah berbasah-basah ria, saya harus memanjat keluar dari bath tub untuk mengambil sabun yang diletakkan di dekat westafel. Namun di Narita berbeda. Hal kecil yang membuat saya tersenyum.
Hotel Komaneka Ubud, adalah salah satu hotel favorit saya. Setiap kali botol air minum saya sudah kosong, pasti langsung mereka ganti yang baru. Bahkan botol air minum bukan hanya di kamar mandi. Namun ada di ruang tamu, dan ada di samping kasur. Ada banyak air minum di sekeliling saya.
Beberapa waktu yang lalu saya dan keluarga berlibur ke sana. Kami terburu-buru sarapan karena mau ke airport. Roti yang dihidangkan, tidak sempat dihabiskan. Maka kami minta tolong dibungkuskan. Namun staff di sana memang sangat bisa berempati. Bukan hanya membungkuskan sisa roti, beliau juga menambahkan banyak roti baru yang lain.
Bahkan saaat saya mau ke airport, Sigma sang receptionist dengan ramah memberikan 2 bungkus cookies untuk anak-anak saya. Hal kecil yang sangat berkesan.
Namun tentu saja ada juga kejadian yang kurang menyenangkan. Ketika saya sarapan di sebuah hotel dan meminta garpu, saya melihat pelayannya memegang garpu langsung dengan tangannya, tanpa dibalut tissue. Dia memegang garpu bukan di gagangnya namun di bagian yang akan masuk ke mulut saya. Wadaow. Saya langsung mengambil sendiri 1 buah garpu lain. Hal kecil yang membuat saya menarik nafas.
Malam ini saya makan di sebuah restoran yang sedang sepi. Di sana pelayan-pelayannya (bukan penyanyi) sedang sibuk memanfaatkan fasilitas organ tunggal. Mereka bernyanyi. Saya nggak tau, mereka mencoba menghibur tamu atau dirinya sendiri. Saya bertanya kepada rekan bisnis saya, “Ibu suka dengan adanya lagu seperti ini di saat makan?”. Beliau menjawab,“Kalau suaranya bagus, saya suka. Kalau suaranya seperti ini sih menggangu“. Saya langsung setuju.
Maka saya memanggil pelayannya dan meminta mereka untuk mengecilkan musiknya. Mungkin maaf, sekalian saja tidak usah bernyanyi dulu, karena kami ingin ngobrol. Mendengar itu sang penyanyi terdiam selama 5 menit. Lalu mulai lagi bernyanyi lagi dengan suara fals-nya, keras. Seolah mengejek, mereka berduet pula!! Hal besar yang dianggap kecil oleh mereka!
Kemarin, di acara seminar Financial Revolution, Pak Tung Desem Waringin tiba-tiba menghilang saat mau makan siang. Ibu Tung langsung panik dan menyuruh semua trainer yang ada untuk mencari beliau. Ternyata Pak Tung sedang duduk menggunakan HP-nya di balik panggung. Setelah masuk ke ruangan istirahat, beliau menyampaikan alangkah senangnya dicemaskan oleh istri. Perhatian kecil seorang istri yang menunjukkan cintanya.
Saya baru saja selesai mengadakan workshop untuk Japfa group dengan produknya ‘So Good’ & ‘Real Good’. Setelah selesai, mereka mengucapkan banyak terima kasih atas workshopnya yang luar biasa. Lalu mereka memberikan saya dan panitia masing-masing 2 (dua) kotak nasi + fried chicken untuk makan malam. Saya bingung kenapa diberikan 2 kotak. Mungkin supaya saya tetap kenyang. Saya sangat menghargainya. Hal kecil yang menyentuh hati saya.
Mungkin di rumah, anda juga diajarkan hal-hal kecil seperti menawarkan makan kepada orang lain sebelum mulai makan. Hal kecil yang membuat anda sungguh beradab dan sopan.
Dalam dunia bisnis, keluarga, service, hal-hal kecil ini bisa membuat kita sedih atau membuat kita tersenyum. Tidak ada hal yang terlalu kecil.
Anda setuju?
Salam Dahsyat!

Anda boleh menggunakan artikel ini di newsletter, website atau publikasi, dengan syarat tetap melampirkan kalimat lengkap di bawah dengan link aktif ke website:
Copyright, Hendrik Ronald. Digunakan dengan izin. Hendrik Ronald adalah Trainer dan Coach Service Excellence. Untuk mendapatkan pelatihan dan artikel lainnya, silakan kunjungi www.HendrikRonald.com

Comments

Popular posts from this blog

Kisah Jualan On LIne di Bukalapak.com

Allan Cahya Guna – Pria Ini Pernah Tertipu Belanja Online Sekarang Jadi Juragan Online Oleh  Ahmad Fahrur  |  23 Juni 2015 Allan Cahya Guna  (23). Memiliki sebuah hobi dan  passion  yang sesuai dengan karir memang lebih menguntungkan. Seperti salah satu pemuda asal Surabaya ini, memulai bisnis jual beli online melalui Bukalapak.com karena hobinya bersepeda. Pria ini sukses mengelola lapaknya di Bukalapak.com dari tahun 2014 sampai dengan sekarang telah memperoleh sekitar 270 feedback. Ia mulai merintis bisnis online karena pada waktu itu pernah memiliki pengalaman buruk ketika bertransaksi online. Suatu ketika dia tertarik belanja online di sebuah situs yang tidak mempunyai sistem rekening bersama. Karena profile seller yang cukup meyakinkan menurutnya. Membuat Allan yakin bahwa ini merupakan penjual terpercaya. Namun belum sepenuhnya percaya Allan melakukan pembayaran uang muka sebagai tanda jadi terlebih dahulu. Namun singkat cerita barang yang...

Service Anda Mulai Bobrok? Begini Cara Memperbaikinya!

“Boleh saya kasih saran, dik?”  Begitu sapa saya kepada yang mengantarkan Chili Dog buat istri saya sore tadi.  “Jelas anda lupa mencatat orderan saya, lalu akhirnya istri saya harus menunggu lama. Yang lain sudah selesai makan, orderan dia baru datang. Setidaknya yang bisa kamu lakukan adalah minta maaf. Itu saja…” , saya coba menjelaskan. Diapun menjawab,  “Bukan begitu pak, saya itu cuma tukang masak aja. Yang salah itu dia” , katanya sambil menunjuk temannya. “Dia yang gak catat orderan bapak”. Saya coba menasehati lagi,  “Ya, ga masalah. Memang dia lupa. Tapi customer kan gak mau tau. Customer taunya pesanannya datang lama sekali. Kalau setidaknya kamu minta maaf sedikit saja kan lumayan”.  Diapun kembali berkilah,  “Lho, yang salah dia kok.” Akhirnya saya mengalah (daripada saya jadi gila). Saya menunggu istri saya menyelesaikan makan chilli dog. Lalu saya ke kasir. Saya menyampaikan kepada kasir,  “Jujur, kalau ditanya sa...

“Sukses itu Berpola, Gagal Juga Berpola..”

Selama 5 tahun belakangan ini Kami terus mengumpulkan pola keberhasilan banyak bisnis online dan berusaha menjawab beberapa pertanyaan seperti: - Kenapa follower Twitter yang banyak tidak menjamin sales menjadi besar? - Bagaimana pengusaha hijab yang tidak memiliki website bisa mengelola pesanan dari seluruh Indonesia bahkan luar negeri hingga omzetnya mencapai ratusan juta perbulan? - Disisi lain, bagaimana seorang pengusaha online yang cuma bermodalkan website satu halaman bisa dapet omzet yang hampir sama dengan yang diatas? - Bagaimana memulai bisnis online sehingga omzetnya bisa langsung melesat dengan cepat? - Darimana Bisnis online harus memulai agar cepat berhasil? - Apakah endorse selebritis di social media berpengaruh terhadap penjualan? - Apa saja model bisnis online yang bisa menjadi penghasilan tetap? - Saluran pemasaran mana yang konversinya paling besar? - Bagaimana dengan hanya sebuah tweet seseorang bisa menjual sebuah produk dengan nilai ra...